History

Piagam UNESCO mendefinisikan digital heritage adalah kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan sumber-sumber administratif, baik aspek teknis, legal, medis dan segala jenis informasi yang diciptakan secara digital, atau yang dikonversikan pada bentuk digital dari sumber-sumber analog yang ada.

Digitalisasi warisan kebudayaan memiliki fungsi agar dapat memberikan akses permanen terhadap segala berbagai macam warisan budaya, mulai dari karya seni, sastra, kuliner dan bentuk-bentuk kebudayaan lainnya.

Digital Heritage

Digitalisasi heritage atau lazim disebut dengan digital heritage adalah upaya preservasi terhadap seluruh aspek kebudayaan telah menjadi perhatian UNESCO, yang kemudian mengeluarkan piagam khusus mengenai persoalan tersebut.

Digitalisasi warisan budaya ini memiliki peran sentral dalam pemajuan kebudayaan, misalnya akses bagi semua pihak. Semisal seperti yang telah dilakukan oleh British Library yang telah melakukan digitalisasi naskah dari berbagai belahan dunia, termasuk naskah-naskah dari nusantara, terutama dari Keraton Jogjakarta. Digitalisasi yang dilakukan British library telah menutup atau paling tidak memberikan jembatan bagi masyarakat untuk dapat mengetahui hingga mempelajari-sumber-sumber yang selama ini tersimpan di dalam museum atau perputakaan nasional.

Sebelumnya naskah-naskah tersebut susah untuk diakses, terutama karena jaraknya yang sangat jauh dari Indonesia. Selain melakukan digitalisasi terhadap naskah-naskah, British Library juga meakukan digitalisasi terhadap benda-benda koleksi lainya seperti tas al-quran, boneka, globe kuno dan juga mendigitalisasikan bentuk naskah Amir hamzah, yang isinya juga telah di publikasikan melalui websitenya.

Selain British Library, British Museum juga melakukan digitalisasi terhadap koleksi-koleksinya  mulai dari tablet Rosetta Stone hingga patung-patung  yang telah didigitalisasi dan dipublikasikan melalui website sketchfab. Website khusus tiga dimensi yang juga bisa diswitch (dialih-ubah) menjadi mode mixed reality atau augmented reality. Mode ini menjadi mode presentasi koleksi  untuk keperluan pendidikan. Hal lain yang juga menarik dari digitalisasi ini, semua hasil digitalisasi ini dipublikasi  di bawah lisensi creative common.

Kendati dipublikasikan secara umum dan semua orang bisa mengkases masing-masing penyedia seperti British Library dan Berlin Museum, memiliki perbedaan dalam memberikan akses. British Library memberikan akses bebas, bahkan boleh mengunduh dan juga mencetak, demikian juga Berlin Museum. Yang berbeda dari pengelolaan aksesnya adalah British museum memberikan akses citra naskah dengan jumlah piksel layak baca, artinya kualitasnya masih cukup baik untuk dibaca, namun jika memerlukan berkas digital yang lebih besar, maka mereka yang berminat harus membayar. Sedangkan Berlin Museum memberikan akses penuh bahkan kita bisa mengunduh berkas digital dalam format besar atau high-res. Apa yang dilakukan oleh British Library ini senada dengan yang dilakukan Wereld Culturel Belanda, yang juga membatasi hanya pada unduhan file pantas baca atau tidak dalam format high-res, dan juga harus membeli untuk berkas digital high-res.

Digitalisasi bentuk kebudayaan ini selain dapat memberikan akses permanen bagi masyarakat, ternyata digitalisasi ini juga bisa dipakai untuk acuan rekonstruksi bangunan. Seperti yang beberapa waktu lalu terjadi pada gereja di Notredame di Prancis. Setelah dilanda kebakaran hebat, Notredam mengalami kerusakan parah. Kerusakan ini ditangisi seluruh warga Prancis dan juga warga dunia. Setelah kebakaran itu, rekonstruksi dilakukan dengan memakai sumber-sumber digital, salah satunya adalah sumber digital yang dibuat Disney untuk keperluan film Hunchback from Notredame. Sumber-sumber digital Disney ini memberikan bantuan besar bagi rekonstruksi tersebut. Dengan kata lain digital heritage ini memberikan solusi bagi kerusakan terhadap produk budaya seperti gereja Notredame.

Berkaitan dengan digitalisasi itu, saya terpikir untuk melakukan digitalisasi terhadap  heritage yang dapat saya jangkau. Digitalisasi ini pada awalnya saya lakukan sekadar sebagai kesenangan semata. Digitalisasi awal, saya lakukan hanya dengan memotret bagian-bagian yang saya anggap menarik seperti relief candi, hingga bekas pintu masjid Sunan Giri di kompleks Mesjid Sunan Giri Gresik, hingga arca-arca yang berada di halaman Museum Mpu Tantular. Belakangan, saya merubah format dari bentuk 2d ( foto ) ke format 3D.

Picture by Google

Berbeda dengan British Library atau British Museum, saya akan mempublikasikan berkas digital tersebut dengan laman biasa, tidak menggunakan sketchfab. Kelebihan Sketchfab memang dengan mudah mengubah menjadi mode XR atau AR, namun kelemahanya adalah biayanya amat besar. Sedangkan web base biasa memang lebih murah. agar fasilitas itu bisa muncul, web tersebut dibangun dengan memanfaatkan teknologi WebARcore Google, sehingga bisa berubah mode XR. Kelemahanya, gawai yang digunakan, harus didukung kemampuarn library ArCore.

WebArCore, ini juga didukung teknologi ,yang memungkinan pengunjung website akan menikmati dalam format virtual 3d. Sedangkan berkas digital berformat glTF (juga glTF binary atau gLB). selain berkas tersebut, juga akan disediakan berkas digital stl,  singkatan dari stereolithography atau juga disebut Standart Triangle Language, untuk keperluan cetak. Sehingga web ini atau hasil digitalisasi tidak hanya dapat dilihat namun juga dapat dicetak 3d sebagai sumber belajar terbuka. Dan juga dipublikasikan dengan lisensi Creative Common.

Laman web ancientJava.com ini menjadi repository atau rumah bagi data-data digital yang telah saya lakukan, harapanya data-data digital ini menjadi bagian dari melakukan preservasi dan transformasi warisan budaya dalam format digital; melakukan pengarsipan dalam bentuk data digital 3d; menciptakan repository warisan budaya berbasis laman untuk data digital 3D. Serta kami berharap laman ini dapat memberikan manfaat untuk materi bahan ajar atau sebagai Open Education Resources (Sumber Terbuka Pembelajaran);  untuk materi penelitian sejarah, arkeologi, arsitektur dan memudahkan akses terhadap kultural heritage tanpa dibatasi ruang dan waktu serta dapat diakses oleh pelajar dan mahasiswa; peneliti kajian sejarah, arkeologi, arsitektur dan masyarakat umum yang tertarik.

Supporting

Penyelenggaran program website ini merupakan salah satu program dan di dukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program (FBK) Fasilitasi Bidang Kebudayaan adalah salah satu upaya Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewujudkan strategi pemajuan kebudayaan. Fasilitasi Bidang Kebudayaan adalah salah satu upaya Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewujudkan strategi pemajuan kebudayaan. 

Scroll to Top