Parthayajna I

Description

Cerita di Candi Jago (Parthayajnya)

Cerita Parthayajnya diawali ketika Yudhistira kalah dalam permainan dadu melawan pihak Korawa, sehingga merekapun mendapat hinaan di luar batas dari pihak Korawa. Dan kini,mereka harus keluar dari kerajaan Hastina, untuk memasuki masa pembuangan yang akanberlangsung selama dua belas tahun. Sebenarnya Bhima lebih suka mati melawan Korawadaripada hidup sebagai seorang pengecut, tetapi Yudhistira memberi pengertian mengenaimakna kematian serta persiapan diri menghadapi kematian itu dengan menjalankan hidupsebagai seorang wiku.

Widura memberi nasehat kepada Yudhistira, bagaimana orang harus bertingkah laku dalamkemalangan serta mencapai batin dalam suka dan duka. Demikian pula Dhomya penasehatrohani mereka, memberi nasehat bahwa kejahatan hendaknya jangan ditentang dengankejahatan. Dengan menjalankan hidup seperti seorang wiku, manusia harus membersihkandiri dan mengembalikan acintya
(yang tak terbayangkan) ke dalam hatinya. Untukmempersiapkan diri menghadapi pertempuran dahsyat nanti Arjuna harus melatih diri lewattapa brata agar memperoleh bantuan ilahi yang mereka perlukan. Atas permintaan Yudhistira,Dhomya lalu memberikan pelajaran kepada Arjuna bagaimana ia harus melakukan tapa ituserta menghindari mara bahaya yang bersangkutan dengannya. Gunung Indrakila merupakantempat ia dapat berjumpa dengan para dewa, tetapi itu baru dapat dilaksanakan sesudah iamenghadap sang bijak (rsi) Dwaipayana, mahaguru dalam ajaran dan praktek Siwadharma.
Kemudian Arjuna mohon pamit kepada ibunya (Kunti), dan saudara-saudaranya serta Dropadi,lalu ia berangkat utuk melaksanakan tugasnya. Ia berusaha memaksa diri untuk berjalanterus dan menghilangkan segala pikiran yang dapat menggagalkan niatnya. Dalam perjalanantersebut, ia sampai di sebuah pertapaan dan melihat-lihat sekelilingnya. Ketika ia sedangberistirahat dalam sebuah bale, ia berjumpa dengan dua orang pertapa wanita yang meskipunmereka menutupi sikapnya tetapi terlihat bahwa mereka mencintai Arjuna. Arjunamenerangkan maksud kedatangannya dan ia diberitahu bahwa pertapa tersebut bernamaWanawati dan didirikan oleh Mahayani, seorang wantia berdarah ningrat dari kalangan kraton(rajyawadhu).

Di bawah bimbingannya pertapaan ini menjadi tempat pemukiman para apsaridari surga.
Oleh kedua kili, Arjuna diantar ke bagian dalam patapan itu, tempat tinggal Mahayani. Iadisambut seperti layaknya tamu agung. Mahayani menceritakan bahwa semenjak pertapaanini didirikan ia sudah menantikan kedatangan Arjuna. Arjuna lalu menceritakan kesedihanyang dialaminya beserta saudara-saudaranya dan juga tentang tugas yang dipercayakan olehYudhistira kepadanya. Mahayani merasa terharu dan berusaha menyembunyikan air matanya,dengan berpura-pura memperbaiki celak matanya (sipat). Kemudian Mahayani memberikanpelajaran panjang lebar mengenai hala-hayu, yaitu kebaikan dan kejahatan, untung dan rugiyang menimpa kehidupan manusia terus menerus silih berganti.

Ketika malam tiba Arjuna mengundurkan diri ke kamar tidurnya namun ia tidak dapat tidurkarena merasa sedih bila ingat betapa berat tugas yang diembannya. Tapi ia ingat akanpelajaran yang didapatkannya dari Mahayani, dan batinnya yang gundah menjadi terangkembali. Tengah malam secara diam-diam dan seorang kili menjumpainya karena sewaktumasih hidup di kraton ia sudah mencintai Arjuna, namun cinta itu tidak diungkapkannya dan
kini masih tetap berkobar-kobar, ia sanggup menjalani resiko akan dipergoki dan dilaporkankepada Mahayani, namun Arjuna berhasil meyakinkan sang Kili bahwa ia harus belajarmenguasai rajas dan tamas yang masih bergejolak dalam hatinya.

Keesokan harinya pagi-pagi Arjuna meneruskan perjalanannya. Dalam perjalanan tersebut disergap badai, guntur dan hujan lebat. Sesudah hujan badai di waktu malam tiba-tiba seluruhalam diterangi oleh cahaya yang menyilaukan. Nampaklah Dewi Sri (pelindung keraton), yangmeninggalkan Indraprasta setelah kehancuran Yudhistira. Ia meramalkan bahwa Arjuna akanmenerima senjata dari dewa Kirata (Hyang Kirata), yang akan mengakibatkan mereka(Pandawa) dapat kembali ke keraton. Kemudian ia memberi pelajaran mengenai musuh-musuh dalam hati sanubari manusia yang harus diperangi, yang berasal dari Tiga Serangkai(Rupanya ketiga guna), yang memberi bentuk dan watak kepada apa saja yang mulai beradadi dunia ini. Setelah memberi petunuk-petunjuk mengenai tapa brata yang akan dilaksanakanArjuna maka sang dewi lenyap dalam ketiadaan.

Arjuna melanjutkan perjalanannya menyusuri pantai. Di suatu tempat yang sangat indahdinaungi oleh pohon-pohon, terlihat Kama dan Ratih (dewa dan dewi asmara), sedangberolahraga bersama sejumlah bidadari surga. Arjuna mengamati mereka dari balik sebatangpohon. Kecantikan dewi Ratih menimbulkan kebimbangan hatinya, apakah ia mampumengejar dan mencapai tujuan yang dicita-citakannya. Kemudian Arjuna keluar daripersembunyiannya dan menghadap Dewa Kama dengan segala hormat kepadanya. Arjunamenjelaskan maksudnya untuk bertapa brata di Guung Indrakila, tapi ia bimbang akantekadnya karena daya tarik kenikmatan duniawi. Dewa Kama kemudian menjelaskan tentanghakekat kebahagiaan yang sering disalahartikan oleh manusia sehingga ia tidak bisamenemukan kebahagiaan tersebut.

Nasehat ini menimbulkan tekad baru bagi Arjuna untuk meneruskan perjalanannya. Ataspermohonan Arjuna, Kama lalu menunjukkan jalan ke Gunung Indrakila. Di sebelah timur laut,ia akan menemukan pertapaan Dwaipayana. Tetapi Kama memperingatkan Arjuna, bahwaseorang raksasa bernama Nalamala ingin mengadu kekuatan dengannya. Raksasa inidilahirkan oleh lidah isteri Siwa sebelum ia melahirkan Ganesa. Kama menjelaskan penampilanNalamala yang mengejutkan dan menerangkan bahwa raksasa tersebut dapat dikalahkandengan melakukan meditasi Siwa. Setelah meramalkan Arjuna akan tinggal di surga maka lenyaplah Kama.

Tiba-tiba muncullah dari air segerombolan raksasa disusul oleh Nalamala. Terjadilah perangtanding dan ketika si raksasa menampakkan diri dalam wujud Kala sehingga membuat para dewa dan pertapa melarikan diri dalam wujud Kala sehingga membuat para dewa dan pertapamelarikan diri dalam wujud Kala sehingga membuat para dewa dan pertapa melarikan dirimaka Arjuna teringat akan nasehat Kama lalu melawan Nalamala dengan samadi yangmempersatukannya dengan Siwa. Raksasa yang melihat sang dewa dalam bentuk sinar yangbercahaya diatas dahi Arjuna menjadi takut dan melarikan diri sambil mengancam Arjuna.

Sambil mengikuti petunjuk Kama, Arjuna meneruskan perjalanannya ke Gunung Indrakila.Akhirnya ia sampai ke Inggitamrtapada, tempat kediaman Dwaipayana, kakeknya. Setelahmendengar apa yang terdjadi di Hastina dan apa yang menjadi tujuan perjalanan Arjuna,Dwaipayana menerangkan kepada Arjuna sifat para Korawa dan Pandawa yang sebenarnya.Para Korawa merupakan inkarnasi kejahatan, sedang para Pandawa “Dewa Pancakusika”(kelima Dewa Kusika), yang diutus ke bumi oleh sang Mahadewa untuk membunuh paraKorawa bila waktu yang telah ditetapkan tiba. Dwaipayana juga memberikan nasehat yangsama dengan nasehat-nasehat yang diberikan pertapa dan rsi sebelumnya, yaitu mengenaikejahatan yang merajalela bahkan dalam diri mereka yang telah menjadi wiku, danbagaimana kejahatan itu dapat diberantas sambil membersihkan batinnya. Dengan cita-cita inidalam hatinya, Arjuna menuju Gunung Indrakila. Setelah satu tahun tujuannya tercapai dan Siwa menampakkan diri sebagai orang Kirata.

Metadata

Jl. Wisnuwardhana, Ronggowuni, Tumpang, Kec. Tumpang, Malang, Jawa Timur 65156
Bas-Relief
Indonesia, East Java, Malang, Tumpang

File modeling 3D dan File untuk Printout bersifat terbuka dan bisa di unduh segera gratis. Gunakan tombol download yang sudah kami sediakan.

Location information

Scroll to Top