Tantri Kamandaka

Description

Cerita di Candi Jago (Angling Darma)
Relief ini dipahatkan pada kaki I dimulai dari sudut barat daya (menghadap selatan) dan berakhir pada sudut timur laut kaki I.

Seorang raja agung dari Malawapati bernama Angling Darma (Aji Darma) pergi berburu ke hutan. Di hutan sang raja melihat putri naga (Nagini) melakukan perbuatan yang tidak pantas dengan seekor ular bukan bangsawan (ular tampar). Angling Darma kemudian membunuh ular tampar itu dan memukul Nagini. Sakit hati Nagini, lalu ia pulang dan melapor kepada ayahnya Naga Raja (Antaboga) dan mencemarkan nama baik Angling Darma.

Raja Antaboga merubah dirinya menjadi pertapa dan pergi ke istana Angling Darma sahabat lamanya, menjelma menjadi seekor ular kecil dan menyelinap masuk ruang tidurnya untuk mendengarkan secara diam-diam percakapan antara Angling Darma dengan isterinya. Akhirnya Antaboga tahu bahwa putrinya yang telah berbohong kepadanya. Ia pergi keluar dan menjelma menjadi seorang pertapa lagi, serta memanggil Angling Darma untuk menemuinya. Sebagai rasa terimakasih atas kebaikan Angling Darma, Raja Naga mengajarakan kepadanya “Pesona Pancabumi” yang membuat Angling Darma mengerti bahasa binatang, dengan syarat ia harus teguh menjaga rahasia ini.

Permaisuri (Setyawati) menjadi sakit hati dan mengancam akan membakar diri apabila Angling Darma tidak mau menceritakan kepadanya rahasia yang diberikan Antaboga. Teringat akan pesan Antaboga dan pembicaraan dua ekor kambing jantan dan betina (Banggali dan Wiwita) yang mencemooh sikap Angling Darma, maka ia bersikukuh tidak menceritakan rahasia Pesona Pancabumi dan membiarkan isterinya membakar diri. Setelah kematian isterinya, Angling Darma tetap sendiri meski banyak wanita yang melamarnya. Seorang Dewi yang ditolak keinginannya mmengutuk Angling Darma dan mengatakan bahwa ia (Angling Darma) akan mengembara keluar dari negaranya selama tujuh tahun.

Setelah menjelajah selama dua bulan menembus hutan rimba, sampailah Angling Darma di Malaya, suatu negara terpencil yang ditinggalkan oleh penduduknya karena rajanya mempunyai kebiasaan minum darah dan makan manusia, demikian juga ketiga putrinya. Setelah raja meninggal, ketiga puteri msih tinggal di istana dan menerima upeti dari para pengelana yang datang ke Negara itu secara bergantian. Suatu malam mereka tidak dapat menahan keinginan untuk makan manusia dan mereka pun pergi ke kuburan untuk mencari mayat. Angling Darma mengikuti mereka dalam bentuk seekor anjing dan memohon agar mereka memberinya sepotong daging. Sesampainya di rumah, ia memuntahkan kembali apa yang telah masuk dalam perutnya. Ketiga putri sangat marah dan mengutuk Angling Darma menjadi seekor angsa putih, dan menyisipkan sebuah gambar di antara bulu-bulu di kepalanya.

Angsa putih (Angling Darma) terbang dan hinggap di rawa, dimana terdapat kawanan burung-burung. Ia bertanya dimana Bojanegara, tempat tinggal Raja Kirtiwangsa. Ketika keluar dari rawa, ia ditangkap oleh seorang anak laki-laki dan membawanya kepada tuannya seorang Demang, yang sangat suka akan pemberian tersebut, sehingga ia menjadi bertambah kaya.

Tersebutlah seorang pertapa yang setiap hari meninggalkan pondoknya untuk meminta-minta. Semangat hidup miskin yang harus ditanggung oleh pertapa tersebut, membuat isterinya tidak sadar akan adanya sebuah penipuan, yaitu adanya pertapa palsu yang menyamar sebagai suaminya, yang selalu datang ke rumah dan tidur bersamanya setelah suaminya pergi. Pada suatu hari, setelah pertapa palsu pergi untuk berpura-pura meneruskan meminta-minta, suami/pertapa yang asli pulang dan menginginkan tidur bersama. Tetapi ia curiga pada isterinya yang terkejut karena ia pulang cepat, padahal ia sudah pergi terlalu lama. Pertapa tersebut mencari akal. Ia pergi lagi tetapi ia menyembunyikan diri di suatu tempat dimana ia bisa mengawasi rumahnya. Saat ia melihat pertapa gadungan memasuki rumahnya, ia tergesa-gesa kembali, tapi bukannya dapat mengejar perginya sang penyusup malah dirinya sendiri yang dituduh sebagai penyelundup ke rumah orang lain dan berselingkuh dengan isterinya. Pertapa wanita tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan ia tidak bisa menyelesaikan masalah ini karena tidak bisa mengenali dengan mantap perbedaan antara kedua pria tersebut.

Kemudian mereka memutuskan untuk meminta pertimbangan raja di Bojanegara, akan tetapi tidak satupun penasehat raja dapat menemukan jalan keluar dari dilema ini. Angsa putih yang mendengar pembicaraan ini kepada Demang serta memberi solusi untuk masalah tersebut.

Demang segera ke istana menghadap raja dan memohon untuk bertindak sebagai hakim dalam perkara tersebut. Ia meminta api, sebuah botol dan sebatang lilin, serta menantang kedua pria untuk membuktikan kepada pertapa wanita, siapa mereka sebenarnya, dengan memasuki botol yang disediakan. Pertapa yang asli tidak sanggup untuk mengerjakan hal tersebut, tetapi pertapa gadungan dengan sombongnya menerima tantangan tersebut. Ia memasuki botol, yang cepat-cepat ditutup dengan lilin dan dilemparkan kea pi sehingga tamatlah riwayat pertapa gadungan tersebut. Demang yang berrhasil menyelesaikan masalah tersebut kemudian diangkat ke posisi tertinggi dalam kerajaan. Akan tetapi ketika raja tahu bahwa yang memberi solusi dari masalah tersebut adalah angsa putih milik Demang, maka Raja meminta angsa tersebut dan menghadiahkan kepada putrinya.

Putri raja Bojanegara selalu menghabiskan waktunya dengan bermain-main bersama angsa putih, yang tidak bisa dipisahkan darinya. Suatu hari ketika sedang memandikan angsa putihnya, putri menemukan sesuatu (gambar) di antara bulu-bulu di kepala angsa tersebut dan melepaskannya. Tiba-tiba angsa putih tersebut menjadi pria muda yang gagah dan tampan. Mereka memutuskan untuk menyimpan rahasia ini. Gambar di kepala angsa dikembalikan ke tempat semula. Mulai sekarang Angling Darma menjadi seekor burung pada siang hari dan menjadi seorang pria kekasih putri pada malam hari. Hingga akhirnya putri menjadi hamil. Kondisi ini diketahui oleh orangtuanya yang memarahi dan ingin tahu pria mana yang telah masuk kerajaan secara diam-diam tanpa ketahuan.

Pada suatu hari Patih Madrin (Patihnya Angling Darma), meninggalkan Malawapati untuk mencari tuannya. Ia tiba di Bojanegara dan mendengar kondisi putri raja. Memahami sepenuhnya kekuatan supranatural tuannya. Patih Madrin mencurigai Angling Darma masuk ke dalam keputren, dengan menyamar dalam bentuk lain. Ia memerintahkan supaya semua pria, wanita serta binatang piaraan yang tinggal di dalam istana termasuk angsa putih yang telah mati dikumpulkan. Akan tetapi ia tidak dapat menemukan Angling Darma yang rupanya telah menjelma menjadi bunga lotus merah yang dipegang putri.

Patih Madrin mendapat ijin masuk keputren, untuk mencari Angling Darma. Melihat kecantikan sang putri ia menjadi tergoda untuk tidak setia kepada Angling Darma. Ia memutuskan untuk mengadu kekuatan supranatural dengan harapan untuk memenangkan sang putri bagi dirinya. Akan tetapi ia dikalahkan dan terpaksa mengakui keunggulan Angling Darma.

Identitas Angling Darma sekarang terbuka. Raja Bojanegara tidak jadi marah kepada Angling Darma, sebaliknya ia bangga terhadap calon menantunya. Setelah pernikahan ia menyerahkan tahta kepada menantunya, tetapi Angling Darma menolak dengan mengatakan bahwa sebelum tujuh tahun berlalu ia masih dalam kutukan/sumpah. Kemudian melanjutkan pengembaraannya diiringi Patih Madrin yang telah dimaafkan akan segala kesalahannya.

Angling Darma dan Patih Madrin tiba di sebuah taman yang dijaga oleh seorang wanita tua yang mengijinkan mereka masuk dan melihat-lihat keindahan taman dari dalam sebuah pondok. Kemudian wanita tersebut menunjukkan pada mereka, arah menuju Kerajaan Kertanegara dan mmemberitahukan bahwa Susilawati, putri raja tersebut (yang digambarkan sangat cantik), sudah lama tidak mau bicara. Raja Kertanegara mengumumkan sayembara, bahwa ia akan menikahkan putrinya kepada siapa saja yang dapat membujuknya untuk bicara.

Angling Darma dan Patih Madrin tiba di Kertanegara dan Angling Darma mencoba membujuk tuan putri Susilawati untuk bicara. Raja Kertanegara menepati janjinya, dan menyerahkan Susilawati untuk dinikahi Angling Darma. Selama tujuh hari Angling Darma tinggal di Kertanegara dan ketika meneruskan perjalanannya lagi ia disertai isterinya (Susilawati) dan Patih Madrin.

Patih Madrin merasa sangat iri terhadap tuannya (Angling Dara) yang telah mendapatkan semuanya. Ia tergila-gila dengan Susilawati, dan berniat menyingkirkan Angling Darma. Pada saat sedang beristirahat, putri meminta Angling Darma tidak bisa memenuhi permintaan tersebut karena jiwanya masuk ke dalam binatang yan gmati, yang berbaring di dekatnya. Patih Madrin yang mempunyai taktik yang sama dengan tuannya, untuk memiliki tubuh tuannya, tiba-tiba merubah dirinya menjadi seekor harimau dan mengejar hewan penjelmaan Angling Darma. Angling Darma merubah dirinya menjadi seekor burung bayan (betet) dan cepat-cepat terbang menuju Bojanegara untuk memberitahukan isterinya (Cakrawati) atas pengkhianatan Patih Madrin serta menyuruh isterinya berhati-hati kepada Patih Madrin yang telah menjelma menjadi Angling Darma.

Sementara itu, putri Susilawati berbalik dan cepat-cepat kembali kepada ayahnya. Menyadari bahwa Susilawati telah meninggalkannya, Patih Madrin yang telah menjelma sebagai Angling darma pergi ke Bojanegara dengan maksud menyatakan dirinya sebagai suami putri Cakrawati yang sah. Cakrawati yang sudah diberitahu oleh Angling Darma, menanti kedatangan Patih Madrin dan mengatur siasat dengan mengadakan adu kambing, dimana Patih Madrin diharuskan ikut ambil bagian dalam bentuk seekor kambing kecil yang akan diadu dengan kambing lain.

Tak lama setelah pertarungan dimulai, seekor burung bayan (betet) turun dan memasuki badan Angling Darma yang telah dikosongkan Patih Madrin yang menjelma menjadi seekor kambing. Dengan demikian Angling Darma telah menjadi dirinya sendiri. Patih Madrin berusaha mencari kembali badannya yang ditinggalkan di dekat pohon mangga, tapi sia-sia, ia tidak dapat menemukannya. Ini merupakan malapetaka baginya, karena ia akan selamanya dalam bentuk binatang. Untuk itu ia kembali ke Bojanegara dan memohon pengampunan dari Angling Darma.

Setelah sepuluh tahun berlalu, Pangeran Yudasangkara (anak Angling Darma dengan Cakrawati) memohon pada ayahnya untuk menjemput putri Susilawati dan membawanya ke Bojanegara. Pada saat yang sama Angling Darma telah menggantikan mertuanya menjadi raja di Bojanegara, dan pemerintahannya menjadi makmur sekali. Pangeran Yudasangkara akhirnya menikah dengan putri dari Tumapel dan menjadi raja di Malawapati.

Cerita di Candi Jago (Kunjarakarna)

Relief ini dipahatkan pada sudut timur laut kaki I dengan arah pembacaan secara prasawya dan berakhir pada sudut barat daya kaki II (teras II).

Kunjarakarna, seorang Yaksa, melakukan meditasi Budha di Gunung Semeru, agar dapat dibebaskan dari wataknya sebagai raksasa dalam inkarnasi berikut. Ia bertekat untuk bertemu Dewa Wairocana (Budha) dan berangkatlah ia. Setelah diijinkan menghadap Wairocana, ia mengajukan permohonan agar diberi pelajaran mengenal dharma dan diberi penerangan mengenai berbagai nasib yang dialami para makluk dunia ini. Sang dewa memuji keprihatinanannya yang demikian berbeda dengan kebanyakan orang, dan memerintahkan agar Kunjarakarna lebih dahulu mengunjungi daerah para orang mati, di bawah kekuasaan Dewa Yama (Yamaniloka). Ini dilakukan Kunjarakarna.

Di persimpangan jalan ia bertemu dua raksasa, Kalagupta dan Niskala, yang menunjukkan jalan kepada arwah-arwah yang lewat, entah ke surga atau ke neraka, sesuai dengan perbuatan mereka pada masa lampau. Jalan selatan menuju daerah besi (lohabumi pattana) dengan pohon-pohon pedang, sebuah gunung dibuat dari besi yang menganga dan menutup sendiri, burung berekor pisau belati dan rerumputan dengan paku-paku sebagai dedaunan. Kunjarakarna menyaksikan bagaimana arwah orang mati disiksa oleh pembantu Yama (para kingkara), dalam aneka bentuk yang mengerikan. Kunjarakarna sangat terharu dengan apa yang dilihatnya, dan ia berterimakasih kepada Yama yang telah memberinya kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri nasib mana yang menantikan seorang pendosa. Kemudian Yama menjelaskan panjang lebar mengenai hakekat kejahatan yang meskipun membawa siksaan dan jalan ke neraka, namun lebih banyak dipilih oleh manusia karena berupa jalan lebar dan mudah ditempuh, dibandingkan jalan menuju surga yang tertutup semak belukar dan rumput liar serta penuh dengan segala macam rintangan.

Kunjarakarna melihat bagaimana sebuah periuk besar akan digosok dan dibersihkan untuk menyambut seorang pendosa berat yang dalam tujuh hari lagi ia memulai siksaannya selama 100.000 tahun. Adapun pendosa itu adalah Purnawijaya, raja para gandarwa yang pada saat ini masih menikmati hasil pahalanya dulu di surga. Berita ini menggoncangkan Kunjarakarna, karena ia masih bersaudara dengan Purnawijaya. Kini ia makin merasa terdorong untuk kembali menghadap Wairocana dan menerima pelajaran yang dimintanya.

Dengan hati cemas akan nasib yang akan menimpa sahabatnya, Kunjarakarna pertama-tama menuju surga untuk menceritakan kepada Purnawijaya apa yang dilihat dan didengarnya. Purnawijaya terhenyak, kebahisan harapan akibat berita mengenai kematiannya yang tak terduga-duga serta hal-hal mengerikan yang akan terjadi sesudah itu. Kunjarakarna menasehatinya supaya ia bertabah hati dan mengajaknya menghadap Wairocana untuk memohon bantuan sehingga dapat mengelakkan nasibnya.

Purnawijaya berpamitan dengan isterinya, Kusumagandhawati dan dengan diiringi oleh sepasukan makluk surgawi, bersama sahabatnya (Kunjarakarna) ia berangkat menuju Bodhi (citta) nirmala. Setelah mereka tiba disana mereka menghormat Wairocana sebagai Mahadewa dan memohon anugerah, agar dharma (dharma desana). Setelah selesai menerima ajaran dharma tersebut Kunjarakarna mohon diri untuk menekuni tapa brata dengan lebih khusuk, tetapi Purnawijaya tidak mengikuti. Ia menanyakan kepada Wairocana, bagaimana ia dapat meloloskan diri dari siksaan di neraka. Wairocana menjawab bahwa ia tidak dapat dibebaskan dari kematian, namun ia akan meninggal dalam tidurnya dan penderitaannya hanya akan berlangsung selama 9 hari.

Purnawijaya kembali ke isterinya dan menjelaskan apa yang akan terjadi. Setelah ia berpesan agar sang isteri menantikan kembalinya pada hari yang kesepuluh, ia tertidur dan meninggal. Arwah Purnawijaya diangkat oleh para kingkara dan dimasukkan ke dalam periuk, namun karena ia melakukan Samadhi, ia hampir tidak merasa sakit. Pada hari yang pohon-pohon pedang menjadi parijata-parijata. Para algojo (Yama) datang untuk melihat kebenaran berita tersebut. Ia mendengar dari Purawijaya, bahwa keajaiban itu terjadi karena rahmat Wairocana serta kesaktian ilmu yang diajarkan kepadanya. Jiwa Purnawijaya kembali ke tubuhnya dan ia seolah-olah terbangun dari tidurnya. Kegembiraan ke 3 periuk pecah dan berubah menjadi sebuah manikam dalam bentuk bunga teratai, Kusumagandhawati karena mereka bersatu kembali untuk menikmati hari-hari bahaiga berubah menjadi kekecewaan, ketika suaminya memberitahukan bahwa ia akan menemani Kunjarakarna dalam melakukan tapa. Ia tersedu-sedu menangisi nasibnya dan sedikit terhibur ketika Purnawijaya berusaha untuk memperlihatkan kasih sayangnya.

Keesokan harinya Purnawijaya berangkat menyusul Kunjarakarna ditemani gandharwa serta widyadhari, dan menghormat Wairocana dengan sembah sujud. Di Bodhicitta, para dewa berkumpul untuk menghadiri upacara dewa puja, diiringi permainan music dan nyanyian yang dilakukan oleh makhluk surgawi, sedangkan para widyadhari memamerkan kecantikannya. Yama yang mewakili para dewa lainnya menanyakan kepada Raja Jina (Wairocana), bagaimana mungkin suatu siksaan yang seberat itu dilunasi dalam beberapa hari saja. Wairocana kemudian menceritakan kisah Muladhara yang menghabiskan segala harta kekayaannya kepada yayasan-yayasan keagamaan serta derma-derma, tetapi hatinya penuh kejahatan dan kesombongan. Dilain pihak terdapat sepasang suami isteri Utsahadharma dan Sudharmika, yang mempergunakan harta mereka yang sangat terbatas untuk berbuat baik dengan maksud yang murni. Oleh Muladhara mereka diusir lalu mereka menjalankan kehidupan sebagai pertapa di pegunungan. Pada saat meninggal mereka belum mampu mencapai pembebasan sempurna, karena masih terikat oleh perbuatan-perbuatan baik yang bersifat lahiriah. Namun demikian mereka menjadi Indra dan Saci di Surga. Muladhara juga menerima balasan atas segala pahalanya dan diangkat menjadi Purnawijaya (raja para gandharwa) biarpun kejahatannya pantas diganjar dengan siksaan yang lebih lama di neraka. Tetapi siksaan itu diperpendek menjadi beberapa hari saja tanpa banyak menderita, karena kesaksian yang terpancar dari ajaran suci yang telah diterima Purnawijaya dan bekas ahli bangunannya (Karnagotra) yang dilahirkan kembali sebagai Kunjarakarna. Selanjutnya Wairocana menerangkan lebih lanjut kepada Purnawijaya, bagaimana perbuatan lahiriah yang baik hanya dapat menghasilkan ganjaran di surga, bukannya pembebasan sempurna. Pembebasan sempurna ini hanya dapat dicapai dengan puņya yang lebih luhur sifatnya yaitu dengan mencapai pencerahan sempurna.

Kini Purnawijaya bertekat untuk mempraktekkan nasehat tersebut dan dengan tujuan itu ia menuju Gunung Semeru bersama isterinya. Ia memberitahukan kepada para bawahannya di surga bahwa ia mengundurkan diri lalu memerintahkan kepada mereka agar kembali ke surga. Mereka patuh walaupun dengan hati sedih karena kehilangan seorang raja yang tiada taranya. Dengan melakukan tapa menurut cara Mahayana (sebagai Mahayana dan mahayani) Purnawijaya dan isterinya (Kusumagandhawati) mencapai pembebasan di surga Jina, dimana Kunjarakarna telah mendahului disana.

Cerita di Candi Jago (Arjunawiwaha)

Relief cerita ini dipahatkan pada kaki III, mulai dari sudut barat daya hingga sudut barat laut(secara prasawya)
Cerita ini diawali ketika Niwatakawaca seorang raksasa mengadakan persiapan untukmenyerang dan menghancurkan surga, kerajaan Dewa Indra. Berhubung raksasa itu tidakdapat dikalahkan baik oelh seorang dewa maupun seorang raksasa, maka Dewa Indramemutuskan untuk meminta bantuan dari seorang manusia. Pilihan jatuh kepada Arjuna yangsedang bertapa di Gunung Indrakila.

Sebelum Arjuna melaksanakan tugasnya, ia terlebih dahulu harus diuji ketabahannya dalammelakukan yoga, sehingga bantuannya sungguh membawa hasil seperti yang diharapkan.Ujian pertama datang dari dewi-dewi kahyangan, diantaranya Tilottama dan Suprabha, yangdiperintahkan untuk mengunjungi dan merayu Arjuna yang sedang bertapa. Tetapi usaha inisia-sia dan para dewi tersebut akhirnya kembali ke surga. Para dewa bersuka cita karenakesaktian Arjuna tetapi satu hal yang masih mereka sangsikan, apakah Arjuna melakukanyoga hanya untuk kepentingan pribadi semata-mata dan mengabaikan keselamatan oranglain. Untuk itu Dewa Indra turun sendiri ke dunia dan mengunjungi pertapaan Arjuna denganmenyamar sebagai orang tua bijak. Arjuna menyambutnya dengan penuh hormat, danterjadilah dialog penuh nasehat yang menguraikan tentang kekuasaan dan kebahagiaan dalammakna yang sejati. Arjuna memahami dan menegaskan maksud serta tujuannya melakukantapa brata, yaitu memenuhi kewajibannya selaku seorang ksatria serta membantu Yudhistirakakaknya untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan dunia. Dewa Indra merasapuas dan mengungkapkan siapa dia sebenarnya serta meramalkan bahwa Siwa akan berkenankepada Arjuna.
Sementara itu raja para raksasa telah mendengar berita apa yag terjadi di Gunung Indrakila.Ia mengutus seorang raksasa bernama
mūka untuk membunuh raja.

Mūka merubah wujudmenjadi seekor babi hutan dan mengacaukan hutan-hutan disekitarnya. Arjuna terkejutdengan kekacauan tersebut dan lkeluar dari gua sambil mengangkat senjatanya. Pada saatyang sama, Dewa Siwa yang telah mendengar bagaimana Arjuna melakukan yoga denganbaik sekali, tiba dengan wujud seorang pemburu dari suku terasing yaitu orang-orang Kirata.Bersamaan, masing-masing melepaskan anak panah dan mengenai babi hutan tersebuthingga tewas. Kedua anak panah ternyata telah bersatu dan terjadilah perdebatan antaraArjuna dan orang Kirata itu, siapa yang telah menewaskan babi hutan tersebut. Perselisihanmemuncak dan terjadilah perkelahian di antara keduanya. Arjuna yang hampir kalahmemegangi kaki lawannya, tetapi pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan berubahmenjadi Siwa kembali. Mengetahui hal ini Arjuna langsung menyembahnya dan kemudianSiwa memberi Arjuna sebuah panah sakti bernama
Pasupati
.
Ketika Arjuna tengah memperbincangkan apakah sebaiknya ia kembali ke sanak saudaranyadatanglah dua
apsara (makluk setengah dewa setengah manusia), membawa sepucuk suratdari Indra, ia minta agar Arjuna bersedia menghadap, membantu para dewa dalam rencanamereka untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna setuju dan dengan memakai kemeja ajaibdan sepasang sandal yang dibawa oleh kedua
apsara , mereka terbang ke surga, tempatkediaman Indra. Dewa Indra menerangkan keadaan yang tidak dapat menguntungkan bagipara dewa akibat niat jahat Niwatakawaca. Raksasa ini hanya dapat dibinasakan oleh seorang manusia, tetapi untuk membinasakannya terlebih dahulu harus mengetahui kelemahannya.Bersama Dewi Suprabha, Arjuna turun ke dunia menuju istana Niwatakawaca. Lewat bidadariSuprabha ini akhirnya Arjuna tahu kelemahan Niwatakawaca, yaitu terletak pada ujunglidahnya.

Setelah Arjuna mengetahui hal itu, ia mulai menghancurkan gapura istana Niwatakawaca.Niwatakawaca terkejut dan marah setelah tahu bahwa ia telah tertipu. Kemudian iamemerintahkan pasukannya agar menyerang para dewa. Terjadilah pertempuran sengit antarapasukan para dewa dan pasukan raksasa, dan Niwatakawaca terjun ke medan pertempuran,menceraiberaikan barisan para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yangikut bertempur berusaha menarik perhatian Niwatakawaca. Ia berpura-pura ikut terhanyutoleh barisan yang lari terbirit-birit tetapi busur telah disiapkan. Ketika raja para raksasa itumulai mengejarnya sambil berteriak-teriak dengan amarahnya, Arjuna menarik busurnya dananak panah melesat masuk ke mulut Niwatakawaca serta menembus ujung lidahnya.Niwatakawaca jatuh tersungkur dan mati. Para raksasa melarikan diri atau dibunuh dankemenangan menjadi mlik dewa. Mereka kembali ke surga dengan suka cita.

Kini Arjuna menerima penghargaan atas bantuannya. Selama tujuh hari di surga (tujuh bulandi bumi) ia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas tahta Dewa Indra. Setelah itumenyusullah upacara pernikahan sampai tujuh kali dengan ketujuh bidadari surga. Ketikatujuh bulan telah lewat Arjuna mohon diri kepada Indra, ia diantar kembali ke bumi olehMatali dengan sebuah kereta surga. Cerita ini diakhiri dengan ratapan para bidadari yang ditinggalkan di surga.

Cerita di Candi Jago (Parthayajnya)

Cerita Parthayajnya diawali ketika Yudhistira kalah dalam permainan dadu melawan pihak Korawa, sehingga merekapun mendapat hinaan di luar batas dari pihak Korawa. Dan kini,mereka harus keluar dari kerajaan Hastina, untuk memasuki masa pembuangan yang akanberlangsung selama dua belas tahun. Sebenarnya Bhima lebih suka mati melawan Korawadaripada hidup sebagai seorang pengecut, tetapi Yudhistira memberi pengertian mengenaimakna kematian serta persiapan diri menghadapi kematian itu dengan menjalankan hidupsebagai seorang wiku.

Widura memberi nasehat kepada Yudhistira, bagaimana orang harus bertingkah laku dalamkemalangan serta mencapai batin dalam suka dan duka. Demikian pula Dhomya penasehatrohani mereka, memberi nasehat bahwa kejahatan hendaknya jangan ditentang dengankejahatan. Dengan menjalankan hidup seperti seorang wiku, manusia harus membersihkandiri dan mengembalikan
acintya
(yang tak terbayangkan) ke dalam hatinya. Untukmempersiapkan diri menghadapi pertempuran dahsyat nanti Arjuna harus melatih diri lewattapa brata agar memperoleh bantuan ilahi yang mereka perlukan. Atas permintaan Yudhistira,Dhomya lalu memberikan pelajaran kepada Arjuna bagaimana ia harus melakukan tapa ituserta menghindari mara bahaya yang bersangkutan dengannya. Gunung Indrakila merupakantempat ia dapat berjumpa dengan para dewa, tetapi itu baru dapat dilaksanakan sesudah iamenghadap sang bijak (rsi) Dwaipayana, mahaguru dalam ajaran dan praktek Siwadharma.
Kemudian Arjuna mohon pamit kepada ibunya (Kunti), dan saudara-saudaranya serta Dropadi,lalu ia berangkat utuk melaksanakan tugasnya. Ia berusaha memaksa diri untuk berjalanterus dan menghilangkan segala pikiran yang dapat menggagalkan niatnya. Dalam perjalanantersebut, ia sampai di sebuah pertapaan dan melihat-lihat sekelilingnya. Ketika ia sedangberistirahat dalam sebuah bale, ia berjumpa dengan dua orang pertapa wanita yang meskipunmereka menutupi sikapnya tetapi terlihat bahwa mereka mencintai Arjuna. Arjunamenerangkan maksud kedatangannya dan ia diberitahu bahwa pertapa tersebut bernamaWanawati dan didirikan oleh Mahayani, seorang wantia berdarah ningrat dari kalangan kraton(rajyawadhu).

Di bawah bimbingannya pertapaan ini menjadi tempat pemukiman para apsaridari surga.
Oleh kedua kili, Arjuna diantar ke bagian dalam patapan itu, tempat tinggal Mahayani. Iadisambut seperti layaknya tamu agung. Mahayani menceritakan bahwa semenjak pertapaanini didirikan ia sudah menantikan kedatangan Arjuna. Arjuna lalu menceritakan kesedihanyang dialaminya beserta saudara-saudaranya dan juga tentang tugas yang dipercayakan olehYudhistira kepadanya. Mahayani merasa terharu dan berusaha menyembunyikan air matanya,dengan berpura-pura memperbaiki celak matanya (sipat). Kemudian Mahayani memberikanpelajaran panjang lebar mengenai hala-hayu, yaitu kebaikan dan kejahatan, untung dan rugiyang menimpa kehidupan manusia terus menerus silih berganti.

Ketika malam tiba Arjuna mengundurkan diri ke kamar tidurnya namun ia tidak dapat tidurkarena merasa sedih bila ingat betapa berat tugas yang diembannya. Tapi ia ingat akanpelajaran yang didapatkannya dari Mahayani, dan batinnya yang gundah menjadi terangkembali. Tengah malam secara diam-diam dan seorang kili menjumpainya karena sewaktumasih hidup di kraton ia sudah mencintai Arjuna, namun cinta itu tidak diungkapkannya dan
kini masih tetap berkobar-kobar, ia sanggup menjalani resiko akan dipergoki dan dilaporkankepada Mahayani, namun Arjuna berhasil meyakinkan sang Kili bahwa ia harus belajarmenguasai rajas dan tamas yang masih bergejolak dalam hatinya.

Keesokan harinya pagi-pagi Arjuna meneruskan perjalanannya. Dalam perjalanan tersebut disergap badai, guntur dan hujan lebat. Sesudah hujan badai di waktu malam tiba-tiba seluruhalam diterangi oleh cahaya yang menyilaukan. Nampaklah Dewi Sri (pelindung keraton), yangmeninggalkan Indraprasta setelah kehancuran Yudhistira. Ia meramalkan bahwa Arjuna akanmenerima senjata dari dewa Kirata (Hyang Kirata), yang akan mengakibatkan mereka(Pandawa) dapat kembali ke keraton. Kemudian ia memberi pelajaran mengenai musuh-musuh dalam hati sanubari manusia yang harus diperangi, yang berasal dari Tiga Serangkai(Rupanya ketiga guna), yang memberi bentuk dan watak kepada apa saja yang mulai beradadi dunia ini. Setelah memberi petunuk-petunjuk mengenai tapa brata yang akan dilaksanakanArjuna maka sang dewi lenyap dalam ketiadaan.

Arjuna melanjutkan perjalanannya menyusuri pantai. Di suatu tempat yang sangat indahdinaungi oleh pohon-pohon, terlihat Kama dan Ratih (dewa dan dewi asmara), sedangberolahraga bersama sejumlah bidadari surga. Arjuna mengamati mereka dari balik sebatangpohon. Kecantikan dewi Ratih menimbulkan kebimbangan hatinya, apakah ia mampumengejar dan mencapai tujuan yang dicita-citakannya. Kemudian Arjuna keluar daripersembunyiannya dan menghadap Dewa Kama dengan segala hormat kepadanya. Arjunamenjelaskan maksudnya untuk bertapa brata di Guung Indrakila, tapi ia bimbang akantekadnya karena daya tarik kenikmatan duniawi. Dewa Kama kemudian menjelaskan tentanghakekat kebahagiaan yang sering disalahartikan oleh manusia sehingga ia tidak bisamenemukan kebahagiaan tersebut.

Nasehat ini menimbulkan tekad baru bagi Arjuna untuk meneruskan perjalanannya. Ataspermohonan Arjuna, Kama lalu menunjukkan jalan ke Gunung Indrakila. Di sebelah timur laut,ia akan menemukan pertapaan Dwaipayana. Tetapi Kama memperingatkan Arjuna, bahwaseorang raksasa bernama Nalamala ingin mengadu kekuatan dengannya. Raksasa inidilahirkan oleh lidah isteri Siwa sebelum ia melahirkan Ganesa. Kama menjelaskan penampilanNalamala yang mengejutkan dan menerangkan bahwa raksasa tersebut dapat dikalahkandengan melakukan meditasi Siwa. Setelah meramalkan Arjuna akan tinggal di surga maka lenyaplah Kama.

Tiba-tiba muncullah dari air segerombolan raksasa disusul oleh Nalamala. Terjadilah perangtanding dan ketika si raksasa menampakkan diri dalam wujud Kala sehingga membuat para dewa dan pertapa melarikan diri dalam wujud Kala sehingga membuat para dewa dan pertapamelarikan diri dalam wujud Kala sehingga membuat para dewa dan pertapa melarikan dirimaka Arjuna teringat akan nasehat Kama lalu melawan Nalamala dengan samadi yangmempersatukannya dengan Siwa. Raksasa yang melihat sang dewa dalam bentuk sinar yangbercahaya diatas dahi Arjuna menjadi takut dan melarikan diri sambil mengancam Arjuna.

Sambil mengikuti petunjuk Kama, Arjuna meneruskan perjalanannya ke Gunung Indrakila.Akhirnya ia sampai ke Inggitamrtapada, tempat kediaman Dwaipayana, kakeknya. Setelahmendengar apa yang terdjadi di Hastina dan apa yang menjadi tujuan perjalanan Arjuna,Dwaipayana menerangkan kepada Arjuna sifat para Korawa dan Pandawa yang sebenarnya.Para Korawa merupakan inkarnasi kejahatan, sedang para Pandawa “Dewa Pancakusika”(kelima Dewa Kusika), yang diutus ke bumi oleh sang Mahadewa untuk membunuh paraKorawa bila waktu yang telah ditetapkan tiba. Dwaipayana juga memberikan nasehat yangsama dengan nasehat-nasehat yang diberikan pertapa dan rsi sebelumnya, yaitu mengenaikejahatan yang merajalela bahkan dalam diri mereka yang telah menjadi wiku, danbagaimana kejahatan itu dapat diberantas sambil membersihkan batinnya. Dengan cita-cita inidalam hatinya, Arjuna menuju Gunung Indrakila. Setelah satu tahun tujuannya tercapai dan Siwa menampakkan diri sebagai orang Kirata.

Cerita di Candi Jago (Kresnawijaya)
Relief ini dipahatkan pada bagian tubuh candi, di sisi kanan dan kiri pintu masuk candi.
Kakawin Kresnawijaya (Kalayawanantaka) mengisahkan perang tanding antara Kresna denganraksasa Kalayawana. Dengan tipu muslihat ia mengakinatkan kematian Kalayawana, lewatmata berapi sang bijak Muchukunda (Mrcchukundha). Kakawin ini merupakan pengantar padacerita Kresnayana.
Wisnu turun ke dunia sebagai Kresna disertai Dewa Basuki sebagai adik Baladewa untukmemusnahkan para raksasa. Raksasa Kangsa dan Kalakanja sudah dibunuh, dan perdamaiandipulihkan kembali sehingga kesejahteraan dinikmati dimana-mana. Akibatnya kerajaan

Kresna terancam kepadatan penduduk. Kemudian Kresn memohon sebidang tanah kepadadewa yang menguasai samudra untuk mendirikan Keraton Dwarawati disana.
Raksasa Kalayawana yang marah sekali karena kematian Kangsa, membuat rencana untukmemusnahkan Keraton Dwarawati dan membunuh Kresna serta Baladewa. Ia melakukanSamadhi di Gua Gokarna dan Dewi Bhairawi (Durga) memberikan anugerah bahwa ia tak akanmati dalam pertempuran. Kemudian Kalayawana bersama pasukannya mengacaukanpedusunan di daerah Madura.
Kresna berangka bersama para yadu menghadapi para pengacau. Terjadilah pertempuranterus menerus yang mengakibatkan para raksasa menderita korban berat, akan tetapiKalayawana tak dapat dilukai. Kresna tahu akan anugerah Bhairawi kepada Kalayawana makaia memerintahkan pasukannya mundur. Ia dikejar oleh raja raksasa lalu menuju pertapaansang bijak Muchukundha dan duduk di lantai di belakang sang pertapa yang sedangbermeditasi. Karena teriakan si raksasa yang mendekati pertapaan mengganggukonsentrasinya, kemarahan pertapa meluap bagaikan api yang memusnahkan dan membunuhsi raksasa.

Cerita Fabel di Candi Jago (Kura-kura dan Angsa)

Cerita ini dipahatkan pada bagian penampil menghadap ke selatan, menggambarkan satu angsa yang membawa terbang kura-kura dengan cara mengigit sebatang ranting di paruhnya, sedang kura-kura menggigit ranting di kanan-kirinya.

Kura-kura jantan bernama Durbudi dan betina bernama Kacapa bertempat tinggal di danau Kumudawati yang sangat permai. Mereka bersahabat dengan angsa jantan bernama Cakrangga dan betina bernama Cakranggi yang berkeliaran mencari makan di danau itu. Pada waktu musim kemarau semakin keringlah air di danau. Angsa mencoba minta diri kepada kura-kura kalau akan pergi ke telaga Manasasara di Gunung Himawan yang airnya jernih dan dalam, tidak akan kering pada musim kemarau. Mendengar hal itu kura-kura mohon diperbolehkan ikut pergi.

Kemudian angsa mencari akal dengan sebilah kayu, kura-kura disuruh mengiggit bagian tengah kayu tersebut dan kedua angsa akan memagut kedua ujungnya dan membawa terbang, tetapi dengan syarat kura-kura tidak boleh kendor gigitannya dan tidak boleh berbicara apapun yang terjadi selama dalam perjalanan. Jika syarat itu tidak dipatuhi maka kura-kura tidak akan pernah sampai di tujuan dan akan mati. Kura-kura sanggup, maka merekapun terbang menuju telaga tersebut.

Setelah jauh terbang sampailah mereka di ladang Wilanggana, ada anjing jantan bernama Nohan dan anjing betina bernama Babiyan di bawah pohon melihat mereka terbang. Anjing betina bertanya pada suaminya tentang kura-kura yang dibawa terbang oleh dua angsa tersebut. Anjing jantan menjawab dan mengejek kura-kura dengan mengatakan bahwa yang dibawa angsa itu bukan kura-kura tetapi tinja kerbau kering, oleh-oleh untuk anak angsa. Kata-kata itu terdengar oleh dua kura-kura itu. Mereka marah dan ingin menjawab sindiran anjing itu, maka terbukalah mulut mereka dan terlepas dari kayu yang digigitnya. Akhirnya kura-kura jatuh ke tanah dan dimakan dua anjing tersebut.

Cerita Fabel di Candi Jago (Harimau lari oleh Kambing Betina)
Relief ini dipahatkan di bagian penampil menghadap ke selatan, dipahatkan dalam dua panil.

Seekor kambing betina bernama Mesaba dengan anaknya bernama Wiwingsali. Pada suatu hari ia makan rumput, tanpa mengetahui bahwa daerah itu adalah daerah kekuasaan singa. Tiba-tiba muncullah singa bernama Warani, hendak memakannya. Untung sang kambing segera menguasai dirinya. Sambil membelalakkan mata dan dengan suara yang berwibawa, kambing berkata bahwa ia pun biasa makan daging singa. Oleh karena itu jika singa mendengar gertak kambing, maka pergilah ia menemui kera dan memberitahu tentang peristiwa yang baru dialaminya. Kera tertawa mendengar cerita singa, dan mengejek betapa penakutnya singa. Atas permintaan singa, kera bersedia mengantarkannya menemui kambing. Tetapi singa meminta demi menilai kejujuran kera, supaya kera bersedia diikat ekornya dengan ekor singa. Kemudian berangkatlah singa dengan menggendong kera di punggungnya, dengan ekor terikat pada ekor singa. Kedatangan singa terlihat oleh kambing, dan dengan sikap yang seolah menunggu berkatalah kambing, “Wahai kera, mengapa engkau hanya datang membawa seekor singa, padahal janjimu memberi aku makan sepuluh ekor singa setiap hari. Kemana yang sembilan, cepatlah aku sudah lapar.” Mendengar kata kambing tersebut, singa merasa ditipu oleh kera, berbalik dan lari, maka jatuh dan terseretlah kera hingga mati.

Cerita Fabel di Candi Jago (Bangau mati oleh Ketam)
Cerita ini dipahatkan pada penampil depan menghadap ke barat sebanyak satu panil.

Di telaga Malini, tinggallah berbagai macam ikan dengan damai. Sekeliling telaga itu ditumbuhi pohon dengan bunga-bunga yang harum, menambah indah telaga itu. Banyak burung hinggap di pohon sekeliling telaga, tetapi ada seekor diantaranya yang berpikiran durhaka dan serakah, itulah si burung bangau. Ia bermaksud menghabiskan ikan-ikan dalam telaga dengan segala tipu dayanya.

Suatu hari berdirilah ia di telaga Malini dengan sikap seperti seorang saleh dan tidak mau meyakiti atau membunuh makhluk hidup di sekitarnya. Para ikan menjadi heran melihat perubahan sikap burung bangau itu, maka bertanyalah mereka apa sebab bangau berubah seperti itu. Burung bangau menjawab, “Hai kawan-kawanku ikan, menagapa berlainan pekertiku dari hari-hari yang lalu, karena aku telah mendapat nasehat dari seorang pendeta, agar menjauhi perbuatan dosa, tidak mebuat susah makluk lain, dan tidak membunuh apapun. Itulah sebabnya maka aku ingin pergi bertapa ke tempat yang sunyi, mengamalkan perbuatan baik dan memberi nasehat dengan kata-kata yang lembut dan penuh kesadaran.” Mendengar kata-kata bangau itu para ikan ingin bersahabat dengannya.

Hari berikutnya datanglah bangau ke telaga Malini. Ketika ia bertemu ikan-ikan itu, menangislah bangau karena mendengar pembicaraan para nelayan yang akan menangkap semua ikan di telaga Malini, sehingga akan putuslah persahabatan bangau dengan ikan-ikan itu. Ia menangis karena tak tahu harus berbuat apa utuk menyelamatkan ikan-ikan itu. Mendengar berita itu diamlah ikan-ikan memikirkan bencana yang akan segera menimpa mereka. Tiba-tiba berkatalah bangau, “Ikan semuanya, jika kalian ingin hidup aku ada akal. Ada sebuah telaga, Andawahana namanya, milik Batara Rudra. Disana tak mungkin ikan seperti kalian diganggu orang, karena telaga itu tak dapat didatangi oleh manusia. Kalau kalian ingin hidup, aku sarankan kalian segera pindah kesana, dan bila kalian menyetujui, aku sanggup membantu kalian menerbangkan kalian ke telaga itu.” Ikan-ikan itupun menyetujuinya, maka mereka pun diterbangkan oleh bangau, digenggamnya dengan kedua kakinya dan diparuhnya digigitnya seekor ikan. Ikan-ikan itu tidak dibawanya ke telaga, tetapi dibawanya terbang ke puncak gunung, di tempat itu dimakannya ikan-ikan tersebut.

Demikianlah dengan mudah bangau mendapat makanan ikan, akhirnya habislah ikan di telaga Malini. Ada seekor ketam yang masih tinggal di telaga Malini, dengan mengiba-iba ia meminta bangau untuk menerbangkannya ke telaga Andawahana agar berkumpul dengan ikan-ikan yang telah dipindahkan bangau. Ketam lalu diterbangkan oleh bangau dan selama terbang itu ketam berpegangan dengan capitnya pada leher bangau. Ketika sampailah bangau di atas puncak gunung, ketam melihat banyak tulang-tulang ikan berserakan di tanah. Berpikirlah si ketam, “Hai bangau, jangan kau turunkan aku ke tempat itu, kembalikan aku ke telaga Malini. Jika tidak kubunuh engkau.” Dengan ketakutan bangau menerbangkan kembali ketam ke telaga Malini. Setelah sampai di pusat telaga maka dicapitnyalah leher bangau sehingga mati.

Cerita Fabel di Candi Jago (Singa dan Lembu)
Relief ini dipahatkan pada bagian penampil depan menghadap ke barat.

Cerita ini diawali dari seorang Brahmana yang sangat miskin bernama Dharmaswarni. Ia sangat tekun memuja Dewa Siwa agar menjadi kaya. Dewa Siwa mengabulkan permohonannya dengan mengatakan apapun yang akan ditemuinya pertama kali di jalan itu menjadi miliknya. Ia menemukan seekor lembu jantan anak Nandini yang bernama Nandeka, kemudian sapi tersebut digunakan sebagai muatan kayu dari hutan yang akan dijual ke kota. Akhirnya dia menjadi kaya raya dan mempunyai banyak lembu dan pedati.

Suatu hari dia pergi berdagang ke kota Udyani malawa membawa seribu pedati. Kota itu sangat jauh dan melalui banyak sungai, hutan, gunung, jurang, lembah, sehingga sapi Nandaka kehabisan tenaga dan jatuh karena terlalu banyak muatan. Sang Darmaswarni tidak sabar menunggu. Nandaka ditinggalkan dengan dua orang pembantunya, Teka dan Pinet dengan pesan kalau dia sembuh dan kuat berjalan supaya menyusul, tetapi jika tidak supaya dibakar mayatnya. Karena Teka dan Pinet takut binatang buas di hutan maka dia ingin cepat-cepat menyusul tuannya. Mereka tidak berani membakar Nandaka karena takut dikutuk para dewa. Kemudian mereka mencari akal dengan melepaskan Nandaka, akan tetapi mereka tetap membuat api pembakaran untuk mengelabuhi tuannya. Setelah sampai pada tuannya mereka mengatakan bahwa Nandaka telah mereka bakar dan asapnya masih tampak mengepul. Darmaswarni percaya pada kata-kata pembantunya itu.

Setelah dilepaskan Nandaka masuk hutan Udyani, bertemu dengan tentara serigala yang sedang mencari mangsa binatang untuk raja hutan/singa bernama Candapinggala. Para tentara serigala menyerang Nandaka, tetapi Nandaka sangat kuat dan dapat mengalahkannya. Tentara serigala itu melapor pada rajanya. Keesokan harinya singa Candapinggala diiringi patih serigala bernama Sambada dan tentaranya menemui Nandaka mengajak damai dan mengikat tali persahabatan.

Mula-mula Nandaka ragu karena makanan singa adalah daging, suka dengan kekayaan dan kekuasaan, sedangkan dirinya makan rumput dan binatang hina. Tetapi setelah dibujuk dan singa berjanji mau makan dedaunan maka Nandaka mau bersahabat dengan singa Candapinggala. Mereka dapat hidup rukun kemanapun tidak berpisah, mereka senasib sepenanggungan, tidak ada yang menjadi tuan dan hamba.

Akan tetapi persahabatan antara Nandaka dan Candapinggala hancur karena hasutan patih serigala (Sambada) yang iri melihat kerukunan mereka. Mereka saling seruduk dan terkam, mengakibatkan kematian keduanya. Nyawa Nandaka kembali ke kahyangan Dewa Siwa dan nyawa Candapinggala ke kahyangan Dewa Wisnu. Sedang tubuh mereka dimakan oleh patih Sambada dan tentaranya. Akhirnya mereka mati kekenyangan, nyawa Sambada kembali ke Walukarnawa Tambragomuka menjadi kerak kancah neraka Yamaniloka menderita siksaan.

Metadata

Jl. Wisnuwardhana, Ronggowuni, Tumpang, Kec. Tumpang, Malang, Jawa Timur 65156
Width 26.5 cm. /Length 82 cm. /Height 31.7 cm
Objects / Others (Objects)
East Java, Malang, Indonesia
All Rights Reserved

File modeling 3D dan File untuk Printout bersifat terbuka dan bisa di unduh segera gratis. Gunakan tombol download yang sudah kami sediakan.

Location information

Scroll to Top